Netizen” Banyak Yang Kaget Mendapatkan Status Dari WhatsApp.

Senzangwarna. com-Whatsapp membuat kaget lantaran munul di status pengguna dan menyinggung soal komitmen Whats App.
Beberapa netizen bingung dengan kemunculan Whatsapp tiba-tiba di status mereka.
Dalam status itu, Whatsapp menyebut kalau mereka akan memberitahukan fitur baru dan pembaruan lewat fitur tersebut.

“Satu hal yang tidak baru adalah komitmen kami untuk privasi Anda,” tulis Whatsapp.Lebih lanjut layanan pesan instan itu menyebut mereka tak bisa membaca atau mendengarkan pembicaraan personal para pengguna. Sebab, pembicaraan itu dienkripsi.
Status baru Whatsapp ini sontak mengundang komentar kocak netizen dan membuat Whatsapp menduduki topik yang sedang ramai dibicarakan.
Mereka usil mengomentari pernyataan Whatsapp soal komitmen.

Baca Juga: Pengguna WhatsApp” Ramai-Ramai Pindah Ke Telegram, Ini Penyebabnya.
Baca Juga. Waduh, Jagat Twitter Rame Hashtag” Uninstall WhatsApp.

Baca Juga. Pendiri Telegram” Angkat Bicara Masalah Aplikasi Pesan WhatsApp Tidak Aman.

“Bangun tidur dikejutkan dgn statusnya si #WhatsApp
Sebagian bilang takut ditinggal pas lagi sayang2nya.. sebagian bilang diye lagi galau.. kalo gw bilang jalanin aja dulu komitmennya.. jalanin dan pertahanin komitmen tak semudah itu ferguso.. percuma janji2 kalo sesumbar doank,” canda yang lain.

“Apaan nih pagi pagi buka whatsapp isi snap nya begini. Aku ga suka ya komitmen-komitmen, langsung pacaran aja!” komentar pengguna berbeda.

Sebagian lagi iseng bertanya kira-kira berapa banyak yang akan melihat status Whatsapp ini.

“Ga kebayang ada berapa banyak yg udah ngeseen status wa nya #WhatsApp banyak juga kontaknya,” cuit @lijahjae.

Sebab, pengguna yang mengeposkan status bisa melihat berapa banyak dan siapa saja yang melihat status mereka. Saat ini, Whatsapp sendiri digunakan oleh lebih dari 2 miliar pengguna.
Source: CNN Indonesia.

Sementara pengguna WhatsApp sendiri banyak yang beralih ke Telegram, beberapa hari kebelakang, dengan adanya kesalah pahaman tersebut, banyak yang dibuat bingung, salah satunya pengguna yang biasa beraktivitas dengan messenger ini, mereka mengkhawatirkan datanya bisa di jual atau di curi, namun ada juga yang berpendapat tidak perlu disikapi terlalu berlebihan, karena data yang digunakan biasa saja.

“Pertama yang menjadi perhatian adalah isi notifikasi lewat aplikasi yang memaksa pengguna untuk menerima perubahan kebijakan privasi di dalam platform tersebut per 8 Februari 2021 atau berhenti menggunakan Whatsapp. Pengumuman ini kurang bijak karena hanya menyediakan pilihan Opt In — pilihan bagi pengguna untuk ikut disertakan dalam kebijakan privasi yang baru, dan tidak diberikan pilihan lain selain berhenti menggunakan Whatsapp. Artinya, cara ini tidak memberi ruang bagi pemakai Whatsapp sebagai pemilik data yang sesungguhnya untuk menentukan pilihan apakah ia mau datanya digunakan sesuai rencana Whatsapp atau tidak. Tidak ada pilihan untuk tetap menggunakan Whatsapp tanpa harus menyetujui kebijakan privasi yang baru (Opt Out). Yang terkesan justru sebaliknya, seolah-olah WhatsApp yang berhak atas data-data tersebut dan pengguna hanyalah “penumpang” yang tidak memilih hak untuk menentukan. Ini jelas pemahaman yang keliru.

Kedua, semua platform teknologi perlu menerapkan kebijakan perlindungan privasi yang mengatur secara jelas siapa pemilik data, pengumpul data, dan pemroses data. Dengan penghormatan pada pengguna sebagai pemilik data, maka pihak yang mengumpulkan data harus transparan apa saja data yang dikumpulkan dan siapa saja pihak-pihak ketiga yang dilibatkan dalam memroses data tersebut. Bila tidak ada transparansi atas cara pengumpulan dan pemrosesan maka pemilik data berpotensi mengalami pelanggaran hak privasi.

Belakangan WhatsApp menjelaskan data-data apa saja yang ia ambil, tapi ini bukan soal data apa saja yang diminta, tetapi sudahkah ada kejelasan akan dimanfaatkan untuk apa data-data yang dikumpulkan tersebut dan dikerjasamakan dengan pihak-pihak ketiga mana saja. Ini yang perlu dimintakan izin kepada pengguna, sebagai pemilik data yang sah.
Namun dengan banyaknya hastag memenuhui jagat media sosial, terutama Twitter, dan akhirnya WhatsApp memberikan kralifikasi dalam sebuah status.
WhatsApp can’t read or listen to your personal conversation as end-to- end encrypted.
One thing that isn’t new is our commitment to your privacy.

“WhatsApp tidak dapat membaca atau mendengarkan percakapan pribadi Anda karena terenkripsi ujung ke ujung. Satu hal yang tidak baru adalah komitmen kami terhadap privasi Anda”/Niko ( Red)

advertisement

Untuk Info Buka Disini…

Tentu saja dengan banyaknya pengguna WhatsApp yang beralih ke Media Telegram menjadi sebuah ancaman bagi WhatsApp, karena Ceo dan Pendiri Telegram “Pavel Valeryevich Durov mengajak untuk uninstall Whats App, karena Privacy nya terlalu lemah dan rawan. Tentu saja balik lagi kepada diri masing-masing, menggunakan media sosial dengan bijak dan tidak berlebihan.

Penulis dan editor Niko.
Senzangwarna.com

Tinggalkan komentar