13.8 C
New York
Selasa, Mei 11, 2021
Beranda Covid-19 Nisfu Sya'ban dan Hilangnya Covid-19, Dengan Berdoa

Nisfu Sya’ban dan Hilangnya Covid-19, Dengan Berdoa

Senzangwarna.com- Nisfu Sya’ban adalah peringatan pada tanggal 15 bulan kedelapan (Sya’ban) dari kalender Islam. Hari ini juga dikenal sebagai Laylatul Bara’ah atau Laylatun Nisfe min Sha’ban di dunia Arab, dan sebagai Shab-e-barat Nama-nama ini diterjemahkan menjadi “malam pengampunan dosa”, “malam berdoa” dan “malam pembebasan”, dan sering kali diperingati dengan berjaga sepanjang malam untuk beribadah. Di beberapa daerah, malam ini juga merupakan malam ketika nenek moyang yang telah wafat diperingati.

Banyak masyarakat yang malam ini membaca amalan, membawa air putih dan ada pula yang membawa nasi kuning untuk disantap bersama-sama walau saat ini tidak boleh dilakukan sementara waktu.

Dalam mukadimah sang Ustad yang paling pertama adalah: kita niatkan supaya virus Corona ini cepat tuntas dan hilang dimuka bumi ini, khususya Indonesia.
Itulah yang dilakukan malam tadi Ba’da Isya, dengan keluarga dan kerabat di mushola.

Baca juga:

Melihat dari grafiknya Virus corona semakin hari semakin meluas. Walau himbauan pemerintah sudah dari jauh-jauh hari di sampaikan, tapi tetap saja tidak bisa membendung penyebaran yang semakin luas.
Masalahnya memang tidak mudah untuk membatasi masyarakat yang berpenghasilan rendah untuk diam selama beberapa waktu, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Lalulalang manusia dari kota-satu ke kota lainnya, ini sangat susah untuk dibendung, social distancing sudah dilakukan, locdown lokal juga sudah diterapkan, malah yang baru ini Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ).

Kalau saya melihat banyak masyarakat kita yang lalu lalang bukan mereka tidak bisa diatur, malah menerapkan sangsi pun sangatlah wajar apabila diterpakan.
Namun antara sangsi dan peraturan harus seimbang, jangan hanya mengatur secara aturan tapi secara kewajiban tidak dilaksanakan.masyarakat jangan hanya menjadi obyek peraturan yang menjerat, namun, kebutuhan yang sangat Urgent tidak pernah diterima.
Lambatnya pemerintah baik itu pusat dan daerah dalam menagani persoalan banyak dipertanyakan.
Sombongnya dalam menonjolkan infrastruktur baru-baru ini, tapi menangani rakyatnya seakan setengah hati, padahal menurut saya inilah saatnya menyatukan dua rakyat yang masih berseteru akibat korban pemilu kemarin untuk dirangkul, sebab saat ini krisis kepercayaan sangat terasa.

Banyaknya bantuan yang beredar di masyarakat dari badan badan sosial, LSM dan Swadaya masyarakat perlu kita apresiasikan.

Janji bantuan dari pihak pemerintah yang tidak kunjung juga diterima, dengan banyak versi masyarakat,” lebih baik mencari rejeki sendiri, daripada berharap bantuan yang belum jelas dapat atau tidak.
Ini yang menjadi kendala saat ini, karena penyebaran covid-19 adalah: masih aktifnya masyatakat yang masih berkeliaran, tentu ini menjadi sebuah pekerjaan dari pihak aparatur pemerintah, memperlakukan rakyatnya secara adil, bukan saat mencari suara, mereka tidak membutuhkan pun kerap dapat bujukan dan rayuan.

Pemberi bantuan dengan pencitraan, muatan politik dan mengharap dapat simpati dari masyarakat,,
hello..hari gini masih pencitraan dan kampanye.!!

Lambatnya bantuan untuk masyarakat, dari pemerintah, ramainya media sosial masalah corona, sehingga banyak yang menganggap sepele.
Tidak memahami dan merasakan bagi yang terkena korban meninggal, begitu beratnya mereka.
Seandainya kalian yang terkena baik itu keluarga dan saudara kita, apa yang dirasakan.? Kalian boleh mengganggap ini hanya sebuah takdir Illahi, sehingga mati, kapan saja bisa terjadi.
Tidak ada yang bisa menolak kematian bila sudah waktunya, jadi buat apa takut.
Saat ini bukan masalah takut atau tidak, beriman atau tidak, kaya atau miskin, sebab kematian adalah yang paling ditakuti oleh siapapun.
Manakalah kematian akibat virus corona, kita tidak bisa memandikan, tidak bisa menyentuh, bahkan untuk melihatnyapun sulit, bagaimana seandainya itu adalah orang tua kita anak kita, sahabat kita, dan keluarga kita.?
Jadi, your arrogance is not for now.

Terima Kasih, semoga kita semua terhindar dari Musibah wabah ini.

<img src=”

Artikel Populer

Recent Comments