Surat Tes Covid-19 Palsu” Rawan Terjadinya Penularan

0
163

Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan ( Kemenkes ), dr Riskiyana Sukandhi Putra mengatakan orang yang menggunakan surat tes COVID-19 palsu untuk naik transportasi umum baik pesawat, kereta api, bus ataupun kapal laut maka dia bisa menjadi sumber penularan.

“Saya sedih, mungkin banyak berita di televisi ada pemalsu surat keterangan ya, surat keterangan sudah melakukan tes, padahal dia belum melakukan tes hanya dibeli saja, kemudian ditangkap polisi begitu. Nah, ini sudah sedemikian parahnya,” ujar Riskiyana dalam Webinar: Mengapa Perlu Vaksinasi COVID-19? Secara virtual, Selasa (26/1/2021).

Baca Juga. Waspada’ Terjangkit COVID-19 Akibat Tertular dari Masyarakat Yang Terlihat Sehat.

Baca Juga. Saat Pandemi Civid-19, Pengusaha Furniture Rontok, Walau Ada Sebagian Yang Kebanjiran Order.

“Nah ini yang saya katakan, kalau dia naik transportasi perhubungan apapun yang mensyaratkan adanya tes antigen, yang kemudian tes antigen dibeli dengan surat yang yang aspal itu tadi,” sambung Riskiyana.Mereka yang naik transportasi umum dengan menggunakan surat tes palsu maka akan membahayakan orang lain. Karena dia termasuk dalam kategori orang tanpa gejala yang harus diwaspadai dan bisa menjadi sumber penularan bagi penumpang lain.“Jadi suratnya asli tapi tidak dilakukan tes sebenarnya atau kita sebut aspal itu tadi, maka orang tersebut bisa menjadi sumber penularan bagi yang lain,” kata Riskiyana.
Apalagi, kata Riskiyana, di dalam transportasi umum baik pesawat, kereta api juga bus dengan AC maka semakin berpotensi terjadinya penularan COVID-19.

advertisement
Kitchen set Bergaya Minimalis. bisa Anda pesan disini….!!

BUKA DISINI

“Baik di dalam pesawat, atau di kereta api, di Bus AC yang memang tertutup semacam itu, bisa dibayangkan berapa banyak orang yang akan tertular hanya oleh perilaku yang salah dari salah satu penumpang kita. Nah inilah perlunya bagaimana kita melakukan upaya-upaya pencegahan,” tandasnya. SindoNews.com”Sementara di bagian lain banyak masyarakat yang terjangkit covid-19 bukan lantaran SWAB Palsu, namun lebih ke tidak disiplinan dalam melawan penyebaran virus tersebut dilingkungan nya. Hal ini semakin tingginya penyebaran virus tersebut akibat tidak adanya rasa saling mengingatkan satu dengan yang lainnya.
Masyarakat perlu menjaga sedini mungkin, apabila ada gejala yang reaktif terhadap kemampuan suhu tubuh, misalnya panas, demam, batuk, sesak nafas, dan tidak merasakan penciuman.

advertisement

BUKA DISINI

“Akibat Masyarakat terkena penularan Covid-19, Padahal jarang Keluar Rumah.
Dari beberapa kasus covid-19 yang kami amati, dari berbagai daerah.
Salah satunya adalah: bergaul antar warga, yang tidak menggunakan protokol kesehatan.
Selanjutnya Penularan dari para pendatang luar daerah. Melakukan aktivitas di luar ruang yang tidak steril. Mempunyai riwayat penyakit yang lebih rentan tertular. Seperti jantung, paru-paru, diabetes, dan penyakit pernapasan lainnya.

Penulis dan editor Niko/SW