13.8 C
New York
Minggu, Mei 16, 2021
BerandaCovid-19Menengok Sejarah Pandemi, Bukan Untuk Mengulangi Sejarah.

Menengok Sejarah Pandemi, Bukan Untuk Mengulangi Sejarah.

Bandung-Senzangwarna.com

Pandemi terparah dalam sejarah adalah flu Spanyol yang terjadi tahun 1918.
Flu ini berlangsung selama dua Tahun dalam tiga gelombang, serangan tercatat sekitar 500 juta orang terinfeksi dari 50 sampai 100 juta kematian.data Wikipedia.

Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

Kematian terjadi justru di gelombang kedua, ketika masyarakat sudah mulai bosan dan tidak nyaman dengan karantina dan jarak sosial.
Ketika mereka dibebaskan keluar rumah lagi.masyarakat berbondong- bondong merayakannya dengan suka cita di jalan-jalan.

Beberapa minggu kemudian serangan gelombang kedua terjadi dengan puluhan jutaan kematian.
Jadi intinya kita mau mengulang sejarah apa mau belajar dari sejarah.?
Menjadi bahan renungan untuk kita semua, bahwa saat ini pun bisa saja mengulang sejarah yang sudah terjadi. Kalau kita tidak belajar dari sejarah.

Inilah pentingnya kita melihat sejarah, bisa kita terapkan saat ini, agar kita bisa mengambil kesimpulan dan contoh bahwa kita ibarat melawan sebuah ramalan, bisa saja terjadi dan memakan banyak korban manusia.

Baca juga:

Melihat penanganan dan pencegahan yang terjadi saat ini begitu mengkhawatirkan, bagaimana tidak, dalam sebuah tranding topik media sosial, banyak dari para perawat Covid-19 mengunggah Video dengan tulisan “Terserah Indonesia.”
Kalau diartikan secara pribadi, mereka merasa kecewa dengan penanganan di lapangan, baik oleh masyarakat juga oleh pemerintah.

Kalau para pejuang tim medis sudah mulai kecewa, apa dampak yang akan terjadi seandainya banyak pasien yang lebih parah melebihi kapasitas saat ini?Kita hanya bisa belajar dari sejarah, karena siapapun belum pernah merasakan virus ini bisa hilang dengan cara yang dilakukan saat ini yaitu menganggap ringan dan mudah diatasi dengan cara tidak taat dengan aturan.
Covid-19 bisa saja berkurang penyebarannya, tapi secara hilang dari bumi Indonesia perlu waktu yang tidak sebentar.



Penulis dan editor Niko.

Artikel Populer

Recent Comments