Sepuluh Tahun Baru Terjawab Siapa Pemimpin Kulit Putih Itu..?

Sekitar 10 tahun yang lalu saat saya tinggal disebuah kota di Sulawesi,tempatnya tidak jauh dari lapangan Karebosi Kota Makassar.
Sempat berbincang dengan tokoh agama terkemuka disana.

Beliau bertanya kepada saya.
Apa yang bapak lakukan disini?

Saya bekerja pak disini,membawa 10 orang tenaga kerja dari Jakarta.

Membuat apa.?
Saya membuat beberapa toko di mall Lotus,(makassar mall) dari pemilik di Jakarta.
Bapak tau pemilik mall ini adalah orang nomer satu di Makassar?,
Yusuf Kalla maksud Bapak?
Ya..?
Kenapa bisa tidak memberdayakan orang Makassar, sedang orang Makassar bukan tidak bisa,membuat seperti kantor Bapak di Jakarta.?
Saya terdiam.

Maaf pak, ini bukan masalah bisa atau tidak bisa mengerjakan,tetapi sang ownernya yang menyuruh kepada kantor kami.

Ya,saya cukup paham.
Saya paham apa yang bapak ceritakan,sebab pemilik toko itu pasti lebih banyak uang dari kami,sehingga mereka bebas untuk mencari apa yang mereka sukai.
Termasuk masalah pekerjaan.
Orang yang mempunyai banyak uang, akan mudah menyuruh,bahkan tidak disuruhpun orang akan meminta.

Orang banyak uang tidak akan melihat itu pribumi atau bukan,mereka akan melihat apa yang mereka inginkan bisa tercapai.

Ini yang terjadi di bangsa ini.!!
Bapak tau.?
20 Tahun kedepan Kita akan lebih sulit lagi,walau banyak orang-orang kaya,tapi orang miskin akan semakin miskin,bukan mengalami perubahan.
Kenapa.?
Sebab capitalisme sudah mulai masuk.
Kita akan dipimpin oleh orang asing,berkulit putih.
Dalam hati saya apakah mungkin kita akan dijajah oleh Belanda kembali..?
Saya bertanya dan memberanikan diri.
Siapa yang berkulit putih itu pak.?

Saya tidak tau.!!
Saya hanya hanya melihat walau mungkin tidak mengalami,tapi sangat jelas.mereka akan memimpin negara ini.!

Saya semakin bingung.”
Sudahlah..sudah hampir magrib,bila Bapak ada waktu, mainlah kerumah kami,tidak jauh dari Mesjid,kita akan lanjutkan ceritanya.
Baik pak..!!
Kami bersalamam dan bergegas pulang ke kostan kami.

Dalam sebuah kamar dan sebuah roti kering, dengan secangir teh hangat,saya teringat tentang si pemimpin negeri ini yang berkulit putih siapa,sebuah pertanyaan yang tidak bisa saya jawab!
Saya merenung apakah kami harus berperang lagi..?
Apakah orang Indonesia bisa berkulit putih..?
Sedang pemimpin bangsa ini harus sebagai putra bangsa sendiri,tidak boleh bangsa lain.

Sampai saya pulang dan tidak bertemu lagi,karena saya harus ke Manado lebih cepat,akhirnya tidak bisa menepati undangan tersebut.

Kini sepuluh tahun yang lalu baru terungkap,bodohnya saya ketika itu tidak bisa mengartikan.
Bahwa pemimpin berkulit putih bukan seorang yang mengatur secara langsung,seperti para raja,
Namun secara ekonomi,secara aturan kita yang buat dan kendalikan,namun kerapuhan sebuah negara adalah ekonomi.

Kita akan diatur secara sistem perdagangan,kita akan diatur secara Financial.
Mereka akan mengatur secara sistem pekerjaan,baik itu bidang sektoral dan bidang usaha lain.

Inilah yang dipertanyakan kepada saya, kenapa harus bawa dari Jakarta,sedang Masyarakat lokal pun mampuh.
Memang tidak bisa kita bantah.
Keterikatan sebuah perjanjian,tidak bisa kita jadikan sebuah percobaan apalagi berdampak gagalnya sebuah rencana.

Penulis dan editor Niko
Senzangwarna.com

Tinggalkan komentar