13.8 C
New York
Senin, Agustus 2, 2021
BerandaNewsPetani Yang Makmur, Petani Yang Mengetahui Inovasi Dan Iklim.

Petani Yang Makmur, Petani Yang Mengetahui Inovasi Dan Iklim.

Bertani memang sangat menjanjikan,iklim di Indonesia yang hanya memiliki dua iklim,ya itu kemarau dan musim hujan.

Bertani menjadi sebuah pekerjaan yang sudah turun temurun,bagi sebagian orang yang lokasinya di daerah Lembang,Cisarua dan daerah yang bersuhu lembab dan suhu dingin.

Bukan hanya daerah tersebut saja apabila kita menyebut daerah dingin dan sebagai sentral pertanian.
Daerah lain pun di Jawa Barat sangat banyak,seperti daerah Garut, Tasik,Cianjur ,Sukabumi,Bogor dll.

Bertani memang terlihat tidak sesibuk orang kantoran yang selalu mengejar-ngejar waktu,mengejar deadline atau orderan yang terus menerus.
Namun ternyata bertanipun tidak jauh berbeda,salah satu contoh ketika penaburan benih atau bibit yang baru di tanam,harus menyiramnya mengobati,menyemprot anti hama,pemupukan yang seimbang.
Sehingga hasil yang nanti di dapatkan akan maksimal.

Banyak masyarakat petani dengan menggunakan pelastik,ini sangat penting,sehingga rumput yang biasanya mengganngu tanaman tidak begitu banyak.dan dapat diantisipasi.

Pelastik disini pungsinya memang sangat variatif,tanaman akan terus lembab.dan bagi yang menanam sayuran,seperti selada,kol,atau burkol menjadi lebih bersih.

Pelastik bila tidak rusak bisa bertahan sampai 2 tahun, ini artinya hasil panen lebih berlimpah,suhu akan lebih stabil karena terjaga kelembabannya.

Menggunakan pelastik memang menjadi lebih tinggi budget yang kita keluarkan,tetapi hasil yang kita dapatkan juga akan lebih besar.

Bagi anda yang memang menjadi seorang petani atau hanya sebagai penghobi bertani.bertani memang banyak ragamnya.ada yang menggunakan polybag atau kantong yang sudah di beri bolongan,ada juga yang menggunakan pipa air yang sudah di beri lubang
Hidroponik,hidroponik ini memang sudah sangat populer.

Bertani sistem hidroponik,memang tidak membutuhkan lahan besar kalau kita bisa membuat materialnya secara di tumpuk atau sistem rak.sehingga bisa bertingkat.

Namun hidroponik hanya tanaman yang sifatnya berbatang kecil seperti bayam,kangkung,sawi.dan tanaman lainnya yang bisa disesuiakan.
Bagi tanaman cabai,atau tanaman lainnya tidak bisa di gunankan dalam sistem hidroponik,sehingga biasanya lebih ke polybag atau pot.

Hidroponik dengan Sistem Sumbu:
Biaya untuk mengumpulkan bahan yang diperlukan tergolong sangat murah.

Bentuk yang sederhana dan pembuatannya yang mudah memungkinkan hidroponik wick bisa dilakukan oleh siapa saja.

Dikarenakan menggunakan media penyalur berupa sumbu maka frekuensi penambahan nutrisi bisa lebih jarang.

Tidak perlu mengeluarkan dana khusus untuk membayar biaya listrik sebagaimana ditemukan pada sistem hidroponik lain.
Mudah untuk dipindahkan.

Kekurangan Sistem Sumbu:

Jumlah tanaman yang dihidroponikkan apabila berjumlah banyak maka akan sedikit sulit dalam mengontrol pH air.

Hanya cocok untuk jenis tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Hal ini disebabkan oleh kemampuan kapiler sumbu dalam menyalurkan nutrisi bersifat terbatas.

1. Sistem Sumbu (Wick)

Dalam melakukan kegiatan hidroponik tanaman, wick system atau sistem sumbu merupakan salah satu sistem yang paling sederhana. Dinamakan sistem sumbu karena dalam pemberian asupan nutrisi melewati akar tanaman disalurkan dengan media atau bantuan berupa sumbu. Dalam sistem sumbu, media tanam hidroponik yang digunakan antara lain adalah kerikil, arang sekam, rockwool, sabut kelapa, dan media penopang lain yang bukan berasal dari tanah.

Hidroponik dengan sistem sumbu sangat cocok untuk Anda yang baru mencoba bertanam dengan hidroponik. Dengan bentuk sederhana serta proses perancangan yang tidak terlalu sulit tentu lebih mudah untuk dipelajari dan risiko mengalami kegagalan pun presentasenya sangat kecil. Anda bisa melakukan hidroponik sumbu di pekarangan rumah. Bentuknya yang kecil membuat cara bercocok tanam hidroponik dengan sistem wick tidak banyak memakan ruang.

Untuk mencoba sistem hidroponik yang paling mudah ini, diperlukan beberapa barang seperti botol bekas atau wadah-wadah bekas lain yang bisa ditemukan di sekitar kita. Prinsip kerja hidroponik sumbu ialah dengan menempatkan nutrisi pada potongan botol bagian bawah. Nutrisi tersebut akan menjalar melewati kain sumbu ke atas dan berada di antara media tanaman sehingga akar tanaman memperoleh nutrisi.

Kelebihan Sistem Sumbu:

Biaya untuk mengumpulkan bahan yang diperlukan tergolong sangat murah.

Bentuk yang sederhana dan pembuatannya yang mudah memungkinkan hidroponik wick bisa dilakukan oleh siapa saja.

Dikarenakan menggunakan media penyalur berupa sumbu maka frekuensi penambahan nutrisi bisa lebih jarang.

Tidak perlu mengeluarkan dana khusus untuk membayar biaya listrik sebagaimana ditemukan pada sistem hidroponik lain.

Mudah untuk dipindahkan.

Kekurangan Sistem Sumbu:

Jumlah tanaman yang dihidroponikkan apabila berjumlah banyak maka akan sedikit sulit dalam mengontrol pH air.

Hanya cocok untuk jenis tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Hal ini disebabkan oleh kemampuan kapiler sumbu dalam menyalurkan nutrisi bersifat terbatas.

2. Sistem Irigasi (Fertigasi)

Drip system atau sistem irigasi atau fertigasi juga termasuk salah satu cara bercocok tanam hidroponik yang paling sering dipakai oleh para petani dunia. Sistem irigasi lebih terkenal untuk menanam sayuran seperti cabai, terong, timun jepang, paprika, dan tomat. Sedangkan untuk buah yang paling umum ditanam dengan sistem irigasi adalah buah melon dan stroberi.

Teknik irigasi dianggap lebih hemat biaya. Hal ini bisa terlihat pada kegiatan pemupukan yang dapat dikurangi karena pupuk hanya diberikan bersamaan dengan proses penyiraman. Selain itu, sistem irigasi meningkatkan efisiensi pemakaian unsur hara karena pemberian pupuk hanya sedikit tetapi kontinyu. Kemungkinan kehilangan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, kalium, sulfur, seng, dan zat besi akibat pencucian dan denitrifikasi juga ikut berkurang apabila menggunakan teknik fertigasi.

Untuk memulai bercocok tanam dengan sistem hidroponik irigasi ada beberapa alat yang diperlukan serta ruangan yang cukup besar, seperti dripper, nipper, microtube, wadah penampungan nutrisi, pompa, pipa nutrisi, polybag, dan timer. Prinsip dasar sistem irigasi adalah dengan mengalirkan larutan nutrisi dalam bentuk tetesan yang berlangsung secara kontinyu, terus menerus, serta sesuai takaran.

Sistem bercocok tanam ini tidak menggunakan media tanam tanah. Beberapa yang kerap digunakan misalnya serbuk sabut kelapa, sekam padi, perlit, vermikulit, dan zeolit. Sedangkan yang benar-benar lebih sering dipilih sebagai media tanam adalah cocopeat dan sekam padi dikarenakan lebih murah dan mudah untuk didapat.

Kelebihan Sistem Fertigasi:

Waktu pemberian nutrisi harus sesuai dengan ukuran kedewasaan tanaman.

Dikarenakan menggunakan media selain tanah, maka memungkinkan akar tanaman lebih mudah tumbuh dan berkembang.

Menjamin kebersihan dan bebas dari penyakit.

Apabila serius dalam menjalankannya, maka sistem hidroponik fertigasi skala besar bisa menjadi ladang penghasilan yang cukup besar.

Hasil tanaman yang didapat lebih banyak dan mempunyai kualitas yang lebih baik.

Penggunaan nutrisi atau pupuk yang tepat.

Kekurangan Sistem Fertigasi:

Modal yang dibutuhkan untuk menyiapkan instrumen atau komponen perancang relatif tinggi.

Diperlukan wawasan lebih luas dan mendalam mengenai tanaman.

Perawatan ladang yang harus selalu dikontrol secara berkelanjutan.

Apabila terjadi gangguan atau kesalahan dan bahkan kerusakan pada sistem pengairan, maka akan berpengaruh terhadap hasil pertanian.

Bertani memang sangat menjanjikan apabila di geluti secara serius,banyak para petani di Bandung Barat misalnya,menjadi sangat makmur dari segi ekonomi/Nik/SW

Recent Comments